Dengan Kebajikan Kita Bersatu, Dengan Cinta Kasih Kita Berdamai

惟德动天 Wéi dé dòng tiān
Saudara-saudaraku yang saya hormati,

Indonesia adalah rumah besar yang dihuni oleh masyarakat dengan beragam agama, suku, budaya, dan tradisi. Dalam keberagaman itu, kita memiliki satu tanggung jawab bersama: menjaga agar perbedaan tidak menjadi sumber perpecahan, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis.

Bagi umat Khonghucu, keharmonisan bukan sekadar cita-cita sosial. Ia merupakan bagian penting dari jalan kebajikan. Nabi Kongzi mengajarkan pentingnya Ren atau cinta kasih, serta kehidupan yang dilandasi sikap saling menghormati.

Dalam Lunyu XV:23, Nabi Kongzi bersabda:
“Janganlah melakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin kamu lakukan terhadap dirimu sendiri.”

Ajaran ini sederhana, tetapi sangat dalam. Jika kita tidak ingin dihina, jangan menghina. Jika kita ingin dihormati, hormatilah orang lain. Jika kita ingin hidup dalam kedamaian, jangan menjadi sumber permusuhan.

Inilah salah satu dasar penting dalam membangun kerukunan antarumat beragama.

Kerukunan Harus Dihidupkan
Kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan. Kerukunan harus diwujudkan melalui perjumpaan dan kerja nyata.

Penyuluh Agama Khonghucu melalui berbagai kegiatan lintas iman bersama para penyuluh agama dari berbagai keyakinan. Mereka hadir dalam kegiatan sosial, dialog kebangsaan, bakti sosial, peringatan hari besar nasional, hingga kegiatan kemasyarakatan.

Pertemuan tersebut bukan hanya mempertemukan orang-orang dari agama yang berbeda. Lebih dari itu, menjadi kesempatan untuk saling mengenal, memahami, dan menghargai.

Kita sering kali takut terhadap sesuatu yang tidak kita kenal. Tetapi ketika kita mau bertemu dan berbicara, perbedaan menjadi lebih mudah dipahami. Dari sana tumbuh kepercayaan. Dari kepercayaan lahir kerja sama. Dan dari kerja sama tumbuh persaudaraan.

Semangat ini sejalan dengan ajaran Zhongyong Bab 13 tentang Shu, yaitu sikap menempatkan diri pada keadaan orang lain. Kita belajar memahami orang lain dengan bertanya kepada diri sendiri: Jika saya berada pada posisi mereka, bagaimana saya ingin diperlakukan?

Inilah dasar moral yang sangat relevan dalam kehidupan lintas iman.

Membersihkan Rumah Ibadah, Merawat Persaudaraan
Salah satu pengalaman yang menggambarkan semangat tersebut adalah kolaborasi Penyuluh Agama Khonghucu dengan IPARI (Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia) dalam kegiatan bersih rumah ibadah dan jamasan rupang menjelang Imlek.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sekitar satu minggu sebelum Ibadah Ji Si Siang An (Er Shi Sheng An).

Bagi umat Khonghucu, membersihkan rumah ibadah dan rupang merupakan bagian dari persiapan menyambut hari suci. Namun ketika kegiatan tersebut dilakukan bersama penyuluh agama dari berbagai keyakinan, maknanya menjadi semakin luas.

Di sana terdapat gotong royong, solidaritas, dan penghormatan terhadap keyakinan orang lain.

Kita belajar bahwa membantu membersihkan rumah ibadah saudara yang berbeda agama bukan berarti mencampuradukkan ajaran. Justru sebaliknya, hal itu merupakan wujud penghormatan terhadap sesama manusia.

Toleransi tidak mengharuskan kita menjadi sama. Toleransi mengajarkan kita untuk tetap berbeda tanpa kehilangan rasa persaudaraan.

Dalam Zhongyong Bab 23 disebutkan bahwa sesuatu yang kecil dapat berkembang menjadi besar. Kebajikan pun demikian. Sikap sederhana seperti menyapa, membantu, menghormati dan bekerja bersama dapat menjadi benih bagi terciptanya keharmonisan yang lebih luas.

Kebajikan Dimulai dari Diri Sendiri

Nabi Kongzi tidak mengajarkan kita untuk terlebih dahulu mengubah orang lain. Perubahan dimulai dari diri sendiri.

Dalam Daxue disebutkan:
“Dari Tianzi sampai rakyat jelata, semua mengutamakan pembinaan diri.”

Ajaran ini mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat yang baik bermula dari manusia yang baik. Keluarga yang harmonis lahir dari pribadi yang mampu mengendalikan diri. Masyarakat yang rukun lahir dari keluarga-keluarga yang rukun. Dan bangsa yang damai dibangun oleh masyarakat yang menghargai sesamanya.

Karena itu, moderasi dan toleransi juga harus dimulai dari diri kita.
Jangan mudah mencela agama lain. Jangan menyebarkan berita yang dapat memecah persaudaraan. Jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan sesama.

Sebaliknya, mari memperbanyak perjumpaan, dialog, kerja sama, dan kegiatan sosial.

Penyuluh agama memiliki peran penting dalam proses ini. Penyuluh tidak hanya menyampaikan pengetahuan agama kepada umat, tetapi juga dapat menjadi jembatan persaudaraan di tengah masyarakat.

Melalui keteladanan, nilai-nilai Khonghucu seperti Ren, Yi, Li, dan He dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat tidak hanya mendengar tentang cinta kasih dan kebajikan, tetapi dapat melihatnya melalui tindakan nyata.

Menjadi Perekat Persatuan
Apa yang dilakukan oleh Penyuluh Agama Khonghucu Kabupaten Banyumas bersama para penyuluh agama lainnya memberikan pelajaran bahwa persatuan tidak selalu dibangun melalui sesuatu yang besar.

Kadang-kadang persatuan lahir dari kegiatan sederhana: membersihkan rumah ibadah, membantu kegiatan masyarakat, menghadiri perayaan keagamaan, berbagi makanan, atau duduk bersama dalam suasana penuh persaudaraan. Dari hal-hal kecil itulah kepercayaan tumbuh.

Karena itu, marilah kita menjadi manusia yang menghadirkan kesejukan, bukan keresahan; menjadi perekat, bukan pemisah; menjadi teladan dalam kebajikan, bukan sumber pertentangan.
Sebagaimana semangat Daxue, pembinaan diri harus menjadi awal dari tertibnya keluarga, masyarakat, hingga kehidupan berbangsa.

Mari kita mulai dari diri sendiri. Mari kita menghormati saudara yang berbeda keyakinan. Mari kita menjaga rumah bersama bernama Indonesia. Dan mari kita wujudkan ajaran cinta kasih bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan. Sebab kebajikan yang dilakukan bersama akan menjadi kekuatan yang menyatukan.
Semoga kita senantiasa mampu mengembangkan cinta kasih, menjunjung kebajikan, menghormati perbedaan, dan menjaga keharmonisan.

Salam Kebajikan.

Trisno Rahayu, S. AB (Penyuluh Agama Khonghucu Kankemenag Kabupaten Banyumas)


Berita LAINNYA