Pengamalan Ajaran Agama Khonghucu dalam Perlindungan Perempuan dan Anak

Ilustrasi

Salam Kebajikan.

Wei De Dong Tian.

Saudara-saudari yang terkasih dalam bimbingan Tian, marilah kita senantiasa bersyukur atas rahmat dan karunia-Nya sehingga kita diberi kesempatan untuk berkumpul, belajar, dan meneguhkan tekad menjalankan Jalan Suci (Dao) dalam kehidupan sehari-hari.

Pada kesempatan ini, kita akan merenungkan bagaimana ajaran Agama Khonghucu mengajarkan perlindungan terhadap perempuan dan anak sebagai bagian dari pengamalan kebajikan di dalam keluarga.

Dalam Kitab Zhong Yong (Tengah Sempurna) Bab XIV Pasal 2 tertulis:

"Di dalam Kitab Sanjak tertulis, 'Keselarasan hidup bersama anak isteri itu laksana alat musik yang ditabuh harmonis. Kerukunan di antara kakak dan adik itu membangun damai dan bahagia. Maka demikianlah hendaknya engkau berbuat di dalam rumah tanggamu: bahagiakanlah isteri dan anak-anakmu.'

Ayat suci ini memberikan gambaran yang sangat indah tentang kehidupan keluarga. Rumah tangga diibaratkan sebagai sebuah alunan musik yang harmonis. Sebagaimana sebuah orkestra menghasilkan keindahan ketika setiap alat musik memainkan perannya dengan selaras, demikian pula keluarga akan menghadirkan kebahagiaan apabila setiap anggotanya saling menghormati, saling mengasihi, dan saling melengkapi.

Tidak ada alat musik yang mendominasi hingga merusak suara alat lainnya. Begitu pula dalam keluarga, tidak boleh ada anggota keluarga yang menggunakan kekuasaan, ancaman, ataupun kekerasan terhadap anggota keluarga yang lain. Harmoni hanya dapat tercipta melalui kasih sayang, penghormatan, dan pengendalian diri.

Selain hubungan antara suami istri, ayat tersebut juga menekankan pentingnya kerukunan antara kakak dan adik. Persaudaraan yang dipenuhi kasih sayang, sikap saling mengalah, saling membantu, dan saling menjaga akan menjadi fondasi lahirnya keluarga yang damai. Dari keluarga yang harmonis akan lahir masyarakat yang tenteram, dan dari masyarakat yang tenteram akan tercipta negara yang sejahtera.

Inilah sebabnya ajaran Agama Khonghucu selalu menempatkan keluarga sebagai dasar pembentukan manusia berbudi luhur. Sebelum seseorang mampu memimpin masyarakat ataupun negara, ia harus terlebih dahulu mampu memimpin keluarganya dengan kebajikan.

Saudara-saudari yang berbahagia,

Pada akhir ayat tersebut terdapat sebuah perintah yang sangat tegas:

"Bahagiakanlah isteri dan anak-anakmu."

Kalimat ini bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban moral bagi setiap kepala keluarga. Keberhasilan seorang suami atau ayah tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan yang dimilikinya, melainkan dari sejauh mana ia mampu menghadirkan rasa aman, kasih sayang, dan kebahagiaan bagi istri dan anak-anaknya.

Dengan demikian, kekerasan dalam rumah tangga sama sekali tidak memiliki tempat dalam ajaran Agama Khonghucu. Kekerasan lahir ketika manusia kehilangan pengendalian diri, dikuasai oleh amarah, egoisme, dan nafsu untuk menguasai. Padahal inti ajaran Zhong Yong adalah keseimbangan, keselarasan, dan kemampuan mengendalikan diri agar kebajikan tetap hidup dalam setiap tindakan.

Mengapa kekerasan dalam rumah tangga masih terjadi? Bukan karena ajaran agamanya kurang sempurna, melainkan karena nilai-nilai suci hanya berhenti sebagai bacaan di bibir tanpa diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Ketika kebajikan tidak lagi menjadi pedoman hidup, maka keharmonisan keluarga akan mudah runtuh.

Saudara-saudari sekalian,

Ajaran Agama Khonghucu memberikan perlindungan yang sangat jelas terhadap perempuan.

Dalam konsep Xiao (Laku Bakti), seorang ibu menempati kedudukan yang sangat mulia. Anak, terutama anak laki-laki, wajib menghormati, merawat, dan berbakti kepada ibunya. Menyakiti seorang ibu merupakan pelanggaran moral yang sangat berat karena mencederai nilai kemanusiaan dan laku bakti.

Demikian pula terhadap istri. Perintah untuk membahagiakan istri menunjukkan bahwa seorang suami memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi, menghormati, dan memperlakukan istrinya dengan penuh kasih sayang. Seorang suami yang melakukan kekerasan, baik secara fisik maupun psikologis, telah gagal menjalankan tugasnya sebagai seorang Junzi, manusia berbudi luhur.

Perlindungan yang sama juga diberikan kepada anak.

Dalam ajaran Khonghucu dikenal konsep kebajikan seorang ayah. Jika anak diwajibkan berbakti kepada orang tua, maka orang tua pun diwajibkan mengasihi, membimbing, dan melindungi anak-anaknya. Pendidikan tidak boleh dilakukan dengan kekerasan, melainkan dengan keteladanan, kasih sayang, kesabaran, dan kebijaksanaan.

Anak adalah amanah Tian yang harus dibimbing agar kelak menjadi manusia yang berwatak luhur. Karena itu, setiap bentuk kekerasan terhadap anak bertentangan dengan semangat Ren, yaitu cinta kasih yang menjadi inti kebajikan dalam ajaran Khonghucu.

Saudara-saudari yang dikasihi Tian,

Lebih jauh lagi, Agama Khonghucu juga mengajarkan kesetaraan martabat rohani antara laki-laki dan perempuan.

Dalam Kitab Zhong Yong Bab XI Pasal 4 dinyatakan:

"Jalan Suci seorang Junzi dasarnya terdapat dalam hati tiap pria dan wanita."

Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki potensi yang sama untuk menempuh Jalan Suci dan mencapai kesempurnaan moral. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk merendahkan perempuan ataupun memperlakukan mereka secara tidak adil.

Ajaran ini menunjukkan bahwa sejak dahulu Nabi Agung Kongzi telah menanamkan nilai penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Perlindungan terhadap perempuan dan anak bukan sekadar tuntutan sosial, melainkan bagian dari kewajiban moral yang bersumber dari Firman Tian.

Saudara-saudari yang berbahagia,

Pada masa kini, pemerintah Indonesia terus menggalakkan perlindungan terhadap perempuan dan anak sebagai bagian dari pembangunan bangsa yang berkeadilan. Sebagai umat Khonghucu, kita tidak melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang terpisah dari ajaran agama. Justru nilai-nilai tersebut telah lama diajarkan dalam kitab suci kita.

Dengan menjaga keharmonisan keluarga, menghormati perempuan, mengasihi anak-anak, menolak segala bentuk kekerasan, dan membela mereka yang lemah, kita bukan hanya menjadi umat Khonghucu yang menjalankan ajaran agama secara murni, tetapi juga menjadi warga negara Indonesia yang turut mewujudkan masyarakat yang damai, adil, dan bermartabat.

Marilah kita memulai semua itu dari rumah kita sendiri. Jadikan keluarga sebagai tempat bertumbuhnya kasih sayang, tempat anak-anak merasa aman, tempat suami dan istri saling menghormati, serta tempat setiap anggota keluarga merasakan kehadiran kebajikan.

Semoga setiap keluarga Khonghucu menjadi keluarga yang dipenuhi kasih, kebajikan, dan keharmonisan sehingga mampu memancarkan terang kebajikan bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.

Wei De Dong Tian.

Penulis: Js Widi Priatno penyuluh priangan timur ( Banjar, Ciamis, Tasikmalaya )


Jiangdao LAINNYA