(Pusbimdik Khonghucu) - Tanggal 22 Desember di Indonesia dikenal luas sebagai Hari Ibu, yang berawal dari Kongres Perempuan Indonesia pertama—sebuah momen bersejarah dalam perjuangan emansipasi perempuan. Namun, tanggal yang sama juga jatuh pada Hari Raya Dongzhi, yang dirayakan oleh umat Khonghucu.
Hari Raya Dongzhi adalah peristiwa astronomis saat matahari berada di garis balik selatan, sehingga di belahan bumi utara terjadi hari terpendek dan malam terpanjang. Pertemuan dua perayaan ini mengajak kita melihat bagaimana makna hari besar sering kali saling terkait, melampaui batas agama dan tradisi.
Bagi umat Khonghucu, Dongzhi bukan sekadar penanda musim, melainkan Hari Genta Rohani yang sarat makna spiritual. Tradisi ini mengacu pada kisah Nabi Khongzi yang setelah sembahyang Dongzhi, meninggalkan kedudukan terhormat di negeri Lu pada usia 56 tahun. Beliau mengembara selama sekitar 13 tahun untuk menyebarkan ajaran kebajikan.
Perjalanan itulah yang membuatnya dikenang sebagai pembawa Genta Rohani—simbol panggilan nurani untuk menyempurnakan agama Khonghucu. Karena itu, Dongzhi mengingatkan umat akan pentingnya pengabdian, keberanian meninggalkan zona nyaman, dan kesetiaan pada nilai kemanusiaan.
Bertepatan dengan Hari Ibu, Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) MAKIN Purwokerto membagikan paket bingkisan kepada para perempuan pekerja keras di Purwokerto, seperti buruh gendong, penjual sayur, pedagang jajanan, dan pemilik warung nasi. Bagi saya, aksi sederhana ini menunjukkan bagaimana iman diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Ibu bukan hanya simbol, tapi sosok utama yang menopang keluarga dengan kerja keras dan ketabahan yang sering tak terlihat.
Acara dilanjutkan dengan ramah tamah antargenerasi. Para remaja Khonghucu menyerahkan bingkisan kepada lansia dari Purwokerto dan Purbalingga sebagai tanda hormat dan terima kasih. Pemberian ini bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan atas perjuangan para ibu yang tetap setia merawat keluarga, iman, dan komunitas hingga usia senja.
Kegiatan ini mengangkat tema nasional PERKHIN: “Sayangilah Lansia, Rawatlah Cinta”. Tema tersebut menekankan pentingnya menjaga kasih sayang lintas generasi, serta memandang lansia bukan sebagai beban, melainkan penjaga ingatan dan nilai ketahanan hidup.
Bagi umat Khonghucu Indonesia, lansia—terutama perempuan—adalah saksi hidup perjalanan iman yang berliku. Mereka mengalami masa sulit di era Orde Baru ketika agama Khonghucu tersisih, hingga akhirnya mendapat pengakuan kembali pada era Reformasi. Menghormati lansia karena itu menjadi bentuk spiritualitas konkret: merawat cinta, mengenang sejarah, dan meneruskan harapan perjuangan iman kepada generasi berikutnya.
Dalam ajaran Khonghucu, Bakti (xiao, 孝) adalah nilai etis paling mendasar. Bakti bukan hanya ketaatan anak kepada orang tua, tapi sikap hormat dan tanggung jawab menyeluruh terhadap sesama dan Yang Maha Esa (Tian). Dalam Kitab Lun Yu 1:6, Nabi Khongzi bersabda:
“Seorang muda, di rumah hendaklah berlaku bakti, di luar rumah hendaklah bersikap rendah hati, berhati-hatilah sehingga dapat dipercaya, menaruh cinta kepada masyarakat dan berhubungan erat dengan orang yang berperi kemanusiaan. Bila telah melakukan semua ini dan masih mempunyai kelebihan tenaga, gunakanlah untuk mempelajari kitab-kitab.”
Perayaan Dongzhi yang bersamaan dengan Hari Ibu menghadirkan makna yang saling melengkapi. Saat malam paling panjang dan cahaya mulai kembali, Dongzhi mengingatkan bahwa hidup selalu bergerak menuju harapan baru. Ibu menjadi lambang kesetiaan yang merawat kehidupan di tengah kesulitan—dengan sabar dan kasih yang tak banyak disuarakan.
Bakti kepada ibu dalam tradisi Khonghucu adalah praktik nyata: merawat di masa tua, mendengarkan dengan hormat, dan mewariskan kebajikan melalui tindakan sehari-hari. Dengan demikian, Dongzhi dan Hari Ibu bukan dua acara terpisah, melainkan panggilan bersama untuk terus merawat kasih, mengenang pengorbanan, dan menjalankan tanggung jawab moral sebagai anak manusia.***
- Ferry Mahulette - PAKIN Solo -