Menjadi Garam dan Terang Dunia ala Khonghucu

Ws. Budi Rohadi sedang Menyampaikan Jiangdao

Ws. Budi Rohadi dalam kesempatan sembahyang Ce it  terakhir di Tahun Imlek 2576 Khongzili, di Lithang Suci Kelenteng Hok Tik Bio, Makin Purwokerto, menyampaikan jiangdao yang mengambil tema ‘Menjadi Garam dan Terang Dunia’ yang tentunya dijelaskan dalam konteks agama Khonghucu di kitab Lun Gi Jilid 6b Pasal 30 ayat yang ketiga : “Seorang berperi cinta Kasih yang ingin dapat tegak, maka ia akan berusaha agar orang lainpun tegak; ingin dapat maju, maka ia akan berusaha orang lainpun maju” 

Ayat tersebut menjelaskan bahwa ada nilai Ren (Cinta Kasih) yang Tian sudah berikan kepada manusia sebagai watak sejati, bagaimana seharusnya orang Khonghucu menerapkan cinta kasih yang sejati. Di dalam ayat ini, orang yang berperi cinta kasih tidak hanya ingin dirinya hidup baik, tapi juga mengajak orang lain untuk lebih baik, bahkan dia tidak maju sendirian tapi juga ingin mengajak orang lain untuk dapat maju bersama. Cinta kasih yang dijelaskan dalam ayat tersebut berarti juga menyempurnakan orang lain, dan bukan hanya diri kita sendiri. 

Ren sendiri dalam bahasa mandarin itu berarti orang dan juga dua, yang mengartikan bahwa cinta kasih tidak bisa berdiri sendirian. Membutuhkan orang lain dan keterlibatannya agar cinta kasih ini dapat diwujudkan dan dilaksanakan. Sehingga ketika seorang Khonghucu atau seorang Junzi ingin memiliki cinta kasih dalam dirinya, maka ia pun harus menerapkan bersama dengan orang lain juga. 

Dalam ayat tersebut mengutip dua kata yakni tegak dan maju. tegak berarti berdiri kokoh diatas kebajikan sebagai seorang Khonghucu. Seseorang yang tegak, pasti ia tidak mudah tergoyahkan oleh godaan, ketekanan dan kebutuhan. Jika kita sudah tegak berarti posisi kita tidak lagi bisa digoyahkan, iman yang tegak dalam ajaran Rujiao. Sedangkan maju, itu berarti kita terus bertumbuh dalam hal duniawi dan juga dalam hal kebajikan, kebijaksanaan dan cinta kasih. Nabi mengingatkan kepada kita, jika kita ingin tegak maka kita juga menegakan orang lain. Begitu juga dengan ketika kita mau maju, kita juga harus memajukan orang lain.

Prinsip-prinsip seseorang yang bercinta kasih ialah tegak bersama dan tidak saling menjatuhkan. Sebagai seorang Junzi maka kita harus mengamalkan prinsip cinta kasih. Cinta kasih menjadi ajaran dari Nabi Khongzi untuk bisa kita amalkan setiap harinya. Kita juga harus maju bersama dalam rangka sebagai umat Khonghucu untuk menghadapi dunia yang sedang tidak menentu arahnya. Yang terpenting, kita bahagia bersama dan bukan bahagia di atas penderitaan orang lain.

Para daoqin juga harus mengerti akan cinta kasih ini, seperti ketika kita menolong orang lain. Apakah kita tanya terlebih dahulu apa agama mereka? apa keyakinan mereka? Tentunya tidak, justru yang kita kedepankan ialah cinta kasih itu kepada mereka. Seringkali ketika kita dihadapkan dalam situasi celaka atau melihat kecelakaan, kita enggan untuk menolong tetapi lebih banyak menontonnya saja atau bahkan memvideokannya supaya dapat viral di sosial media. 

Dalam ayat ini kita dapat mengambil ilustrasi bahwa sebagai umat Khonghucu, kita juga dituntut untuk dapat menjadi garam dan terang dunia. Kehadiran kita haruslah memiliki dampak yang dapat dirasakan oleh orang lain, bukan hanya diri sendiri saja. Sifat garam yang memberi rasa dan mencegah pembusukan, garam juga dapat dikatakan sebagai bumbu dapur asli dan tidak ada tiruannya. Fungsi garam itu memberi rasa supaya makanan tidak hambar, begitu juga dengan kita yang dituntut untuk berperi cinta kasih. Di dunia, jika cinta kasih itu hilang maka di dunia akan menjadi dunia yang jahat dan tidak berkemanusiaan. Garam juga mengajarkan untuk manusia bisa menjaga nilai-nilai luhur supaya tidak rusak atau terkikis dari nilai-nilai modern.

Seperti halnya sekarang dalam dunia pekerjaan, mencari seorang yang pintar mungkin banyak sekali yang bisa ditemukan. Tetapi mencari seorang yang jujur dan juga tanggung jawab itu akan sulit. Seperti yang dilakukan oleh Jusuf Hamka, beliau bertemu dengan seorang pengemudi Gojek Online yang jujur dan tanggung jawab. Sehingga beliau mengangkatnya sebagai karyawan di perusahaannya. Pesan untuk Daoqin yang muda-muda dari Rakin Banyumas, nilai Jujur dan tanggung jawab haruslah bisa dipegang dan dilakukan. 

Kemudian membahas terang dunia, umat Khonghucu dipanggil juga untuk menjadi terang dunia seperti sebuah lilin yang menerangi kegelapan. Kebajikan yang kita miliki itu dapat mengusir kejahatan yang ada. Terang itu bukan berarti kita menonjolkan diri tapi juga dapat memberikan terang bagi sesama kita. Seperti saat-saat sebentar lagi yang mana kita akan merayakan imlek, maka ada lilin yang dinyalakan. Mengapa orang Tionghoa itu menjelang imlek banyak memasang lilin? Mereka yang memasang lilin di Kelenteng memiliki sebuah keyakinan bahwa supaya ditahun yang baru mendapatkan jalan yang terang. Sehingga kita para umat khonghucu diharapkan juga menjadi terang, dengan berperi cinta kasih serta menjadi teladan dikegelapan dunia ini. 

Kepada teman-teman yang sedang dirundung masalah atau melakukan kesalahan, kita harus mengingatkan bukan justru malah menjauhinya. Sehingga lilin yang terang itu kita bagikan kepada orang banyak dan orang lain, Ws. Budi menekankan bahwa “Jangan merasa takut jika berbuat kebaikan walaupun seorang diri”. Layaknya lilin yang menerangi, jika lilin itu dibagi-bagikan terangnya, maka kegelapan pun akan hilang. 

Kita belajar bahwa menjadi umat Khonghucu harus terus berdampak di mana kita berada, menjadi garam berarti memberi rasa melalui cinta kasih kita kepada sesama. Menjadi terang itu berarti kita menyalakan kebajikan untuk mengalahkan kejahatan yang ada. Serta kita belajar seperti Nabi Khongzi dimana beliau ada, beliau menjadi sosok teladan untuk orang lainnya bahkan kepada murid-muridnya.***

Penulis: Ferry Mahulette | Pakin Solo


Jiangdao LAINNYA