Kelenteng Ming De Miao UNS Ikut Meriahkan Kirab Budaya Ban Eng Bio Adiwerna sebagai Wujud Pelestarian Tradisi dan Penguatan Moderasi Beragama

Partisipasi Kelenteng Ming De Miao UNS dalam Kirab Budaya Ba Eng Bio

Pusbimdik Khonghucu - Suasana semarak terlihat di kawasan Adiwerna, Kabupaten Tegal, ketika Kirab Budaya Kelenteng Ba Eng Bio kembali digelar dan menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Tahun ini, salah satu rombongan yang menjadi sorotan ialah partisipasi Kelenteng Sinar Kebajikan atau Kelenteng Ming De Miao Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Partisipasi ini bukan hanya menandai peran aktif komunitas Khonghucu dalam pelestarian budaya Tionghoa-Indonesia, tetapi juga memperkuat citra keberagamaan yang inklusif dan moderat di tengah masyarakat majemuk.

Kelenteng Ming De Miao dikenal sebagai kelenteng pertama yang berdiri di lingkungan kampus di Indonesia. Keberadaannya menjadi simbol penghormatan terhadap keberagaman sekaligus penanda bahwa ruang-ruang pendidikan tinggi dapat menjadi lahan subur tumbuhnya toleransi.

Pada tahun akademik 2025/2026, UNS memiliki dua mahasiswa Khonghucu yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa Khonghucu (KBMK), baik di tingkat kampus maupun nasional. Keduanya aktif mendampingi berbagai kegiatan keagamaan dan kebudayaan, termasuk kehadiran pada kirab ini.

Rombongan Kelenteng Ming De Miao memulai perjalanan dari Litang Gerbang Kebajikan, Makin Solo, pada Minggu pagi. Para peserta yang terdiri dari Pemuda Agama Khonghucu Indonesia (PAKIN) Solo, mahasiswa KBMK, serta Barongsai Tripusaka Solo, bersiap sejak subuh untuk memastikan segala perlengkapan kirab dalam kondisi baik.

Kami berangkat pada pagi hari dan siang hari sudah sampai di kelenteng Ban Eng Bio, Adiwerna. Sedangkan rombongan lainnya berangkat satu hari lebih awal untuk membawa Kimsin dan Joli serta membawa Tambur. Pada kesempatan ini, Kelenteng Ming De Miao membawa Kongco Fu De Zheng Shen, sosok suci yang dihormati sebagai simbol kebajikan, perlindungan, dan keberkahan.

Kehadiran rombongan disambut hangat oleh panitia dan masyarakat sekitar. Derap barongsai, tabuhan genderang, dan aroma hio yang mengepul menciptakan suasana spiritual sekaligus meriah. Iring-iringan tandu dewa, atraksi budaya, serta partisipasi berbagai komunitas menjadi penanda kuatnya tradisi Tionghoa yang telah berakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Di tengah keramaian, tampak pula dukungan dari tokoh keagamaan Khonghucu asal Surakarta, yakni Ketua Makin Kota Surakarta, Henry Susanto, dan Ketua Kelenteng Tien Kok Sie Surakarta, Sumantri Dana Waluya yang turut mendampingi jalannya kegiatan sekaligus memberikan semangat bagi para peserta dari Solo.

Keterlibatan Kelenteng Ming De Miao UNS dalam kirab budaya  merefleksikan bagaimana tradisi dan praktik keagamaan dapat menjadi jembatan harmoni. Kirab Budaya Ba Eng Bio bukan hanya ruang selebrasi budaya, tetapi juga wadah perjumpaan yang memungkinkan masyarakat lintas agama dan suku untuk saling mengenal dan menghargai. Banyak warga setempat yang ikut menyaksikan jalannya kirab sembari berinteraksi dengan peserta dari berbagai daerah, menjadikan acara ini ruang sosial yang memperkuat rasa kebersamaan.

Bagi mahasiswa Khonghucu UNS, keterlibatan dalam kirab ini menjadi pengalaman yang memperkaya identitas keagamaan sekaligus memperluas wawasan sosial. Berada dalam satu barisan bersama umat dari berbagai latar belakang membuat mereka merasa menjadi bagian penting dari keberagaman Indonesia.

Sementara itu, bagi umat Khonghucu di Surakarta, keikutsertaan ini mempertegas komitmen mereka untuk terus melestarikan budaya Tionghoa-Indonesia serta menghadirkan wajah agama yang ramah dan penuh kebajikan.

Partisipasi Kelenteng Ming De Miao UNS di Adiwerna menunjukkan bahwa praktik beragama tidak harus eksklusif dan tertutup. Sebaliknya, ia dapat menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai moderasi beragama—seperti komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal— yang sejalan dengan upaya Kementerian Agama dalam merawat harmoni di tengah masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, budaya Tionghoa dan ajaran Khonghucu tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dihidupkan dengan cara yang relevan, terbuka, dan berdampak positif bagi publik.

Kirab Budaya Ba Eng Bio pun menjadi bukti bahwa tradisi dapat menjadi ruang dialog yang hangat. Ia mempertemukan umat lintas generasi, lintas wilayah, dan lintas kepercayaan. Di lain sisi, bagi Kelenteng Ming De Miao UNS, partisipasi tahun ini menjadi langkah penting dalam menegaskan kehadiran mereka sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan dan keberagamaan Indonesia yang majemuk serta berkomitmen pada nilai-nilai kebajikan bagi sesama.***

- Penulis: ​​​Ferry Mahulette - PAKIN Solo -


Jiangdao LAINNYA