Ajaran Ru Jiao (儒教 - Rújiào), yang juga dikenal sebagai Konfusianisme atau Ru Jiao, tidak hanya membentuk fondasi etika Tiongkok kuno tetapi juga meresap ke dalam sistem moralitas global melalui penyebaran historis, adaptasi budaya, dan dialog filsafat lintas peradaban, mencakup dimensi etis, sosial, politik, hingga kontemporer. Pengaruh ini terwujud dalam prinsip-prinsip inti seperti Wu Chang (五常 - Wǔcháng / lima kebajikan mulia) dan Ba De (八德 - Bādé / delapan Kebajikan), yang memengaruhi pembentukan norma moral di Asia Timur serta resonansi dengan nilai-nilai universal seperti aturan emas (Shu - 恕 – Shù atau "jangan lakukan kepada orang lain apa yang tidak kamu inginkan").
Fondasi Filsafat dan Kebajikan Inti Ru Jiao membangun kerangka moral yang holistic melalui Ren (仁 - Rén / benevolensi atau kasih sayang manusiawi), Yi (義 - Yì / kebenaran atau keadilan), Li (禮 - Lǐ / etika ritual dan tata krama), Zhi (智 - Zhì / kebijaksanaan), serta Xin (信 - Xìn / kepercayaan atau integritas), yang saling terkait dalam hierarki kosmik Tian-Ren-He-Yi (天人合一 - Tiānrén Héyī / keselarasan langit-manusia).
Konsep Zhong-Yong (中庸 - Zhōngyōng / jalan tengah) mencegah ekstremisme moral, sementara praktik Xiushen (修身 - Xiūshēn / pengolahan diri) menekankan kultivasi bertahap dari individu menjadi pemimpin bijaksana (Junzi - 君子 - Jūnzǐ), memengaruhi Pendidikan moral modern di negara-negara warisan Konfusius seperti Korea Selatan dan Singapura.
Integrasi ini menciptakan dinamika kompleks di mana moralitas bukan sekadar aturan statis, melainkan proses dinamis yang beradaptasi dengan konteks sosial. Penyebaran Regional dan Adaptasi Budaya Secara historis, Ru Jiao menyebar melalui Dinasti Han ke Semenanjung Korea (sebagai Yugyo), Jepang (Jukyo), dan Vietnam (Nho giáo), di mana ia berpadu dengan tradisi lokal untuk membentuk kode etik feodal seperti Bushido (武士道 - Wǔshìdào) di Jepang yang mengadopsi Yi dan Li, serta sistem ujian mandarin di Korea yang menjunjung Zhi. Di Asia Tenggara, pengaruhnya terlihat pada komunitas Tionghoa peranakan yang menerapkan Xiao (孝 - Xiào / bakti anak) dalam struktur keluarga, memengaruhi norma sosial di Indonesia, China, dan Malaysia.
Kompleksitas ini muncul dari sinkretisme, di mana Ru Jiao berinteraksi dengan Buddhisme dan Taoisme, menghasilkan Neo-Konfusianisme Zhu Xi (朱熹) yang memperkaya ontologi moral dengan elemen metafisik Li-Qi (理氣 - Lǐ-Qì / prinsip-materi). Resonansi Global dan Dampak Modern Pada tingkat global, ajaran Ru Jiao memengaruhi filsafat Barat melalui Jesuit seperti Matteo Ricci yang menerjemahkan teks Konfusius ke Latin pada abad ke-17, menginspirasi Enlightenment thinkers seperti Voltaire dan Leibniz dalam konsep harmoni sosial dan meritokrasi. Di era kontemporer, prinsip He (和 - Hé / harmoni) mendukung diplomasi internasional seperti "Beijing Consensus" dan etika bisnis di Tiongkok modern, sementara studi komparatif menunjukkan kesamaan dengan etika Kantian (imperatif kategoris) dan utilitarisme Mill melalui penekanan pada kebajikan kolektif.
Tantangan seperti globalisasi memunculkan "Konfusianisme liberal" (Amoûr Tu Weiming), yang mengintegrasikan Ren dengan hak asasi manusia, membuktikan relevansi Ru Jiao dalam mengatasi krisis moral dunia seperti individualisme berlebih dan degradasi lingkungan.
Moralitas Ru Jiao termuat dalam ajaran Di Zi Gui (弟子規 - Dìzǐguī / Budi Pekerti) bersumber dari ajaran Confucius Kongzi (孔子 - Kǒngzǐ). Ajaran Moralitas menekankan kepada praktik dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya sekedar sebagai teori belaka, Moralitas diwujudkan dalam memuliakan hubungan, dalam Ru Jiao terdapat ajaran memuliakan hubungan dalam konsep Sancai (三才 - Sāncái / Tian, Di, Ren).
Memuliakan hubungan kepada Tian (天 - Tiān) dengan konsep Beribadah-Sembahyang. Memuliakan hubungan kepada Di (地 - Dì / Alam) dengan konsep Yin Yang (陰陽) dan didasarkan kepada Wu Xing (五行 - Wǔxíng / Lima Unsur). Memuliakan Hubungan kepada Ren (人 - Rén / Manusia) dengan konsep Zhong Shu (忠恕 - Zhōngshù / Satya dan Tepasalira). Moralitas itu dimulai dari dalam diri sendiri dengan mengembangkan Watak Sejati (Xing - 性) dalam kehidupan sehari-hari didasarkan dengan Pembinaan diri sebagai pokok.
Pembinaan diri melalui delapan tahapan pembinaan diri: Meneliti Hakikat Tiap Perkara (Ge Wu - 格物), Mencukupkan Pengetahuan (Zhi Zhi - 致知), Mengimankan Tekad (Cheng Yi - 誠意), Meluruskan Hati (Zheng Xin - 正心), Membina Diri (Xiu Shen - 修身), Membereskan Rumah Tangga (Qi Jia - 齊家), Mengatur Dunia (Zhi Guo - 治國), dan Mencapai Perdamaian Dunia (Ping Tian Xia - 平天下). Ajaran Moralitas ini menjadi pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupan dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara.***
Penulis: Afat