Jakarta (Pusbimdik) – Mandarin Bootcamp pertemuan ke-11 yang kembali digelar secara daring melalui Zoom pada Sabtu pagi, 29 November 2025, berlangsung penuh semangat dengan fokus memperdalam pelafalan pinyin, ekspresi keinginan sehari-hari “我想喝茶” (Wǒ xiǎng hē chá – Saya ingin minum teh), serta pengayaan wawasan budaya teh Tiongkok yang kaya akan sejarah.
Kelas dibuka oleh Vania Laoshi dengan mereview materi pertemuan sebelumnya. “Masih ingat minggu lalu kita belajar apa? Sedikit mereview ya, kita sudah belajar tentang kata-kata yang diawali dengan nada dua pada kumpulan kata yang telah saya paparkan,” ujarnya sambil menampilkan slide. Ia juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam pelafalan pinyin karena banyak diksinya yang terdengar mirip.
Setelah membahas PR pekan sebelumnya, Vania Laoshi memberikan catatan khusus: “Yang telah direcord semuanya aman ya, tapi kalau nada dua bertemu dengan beberapa pronunciation yang berbunyi ‘xué’, seperti pada kata ‘liúxué’ dan ‘xuéxí’, ini masih terdengar sulit pengucapannya, sehingga perlu latihan lagi.” Beberapa peserta kemudian dipersilakan mempraktikkan 自我介绍 (zìwǒ jièshào – perkenalan diri) dalam Bahasa Mandarin dengan lancar dan penuh percaya diri.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Rizka Laoshi dengan warm-up membaca kosakata dan frasa dalam konteks restoran (在饭馆儿 zài fànguǎnr). Materi utama hari itu adalah ungkapan “我想喝茶” (Wǒ xiǎng hē chá). Rizka Laoshi memperkenalkan kosakata baru (生词 shēngcí) satu per satu:
- 想 (xiǎng) → ingin
- 喝 (hē) → minum
- 茶 (chá) → teh (nada 2)
- 吃 (chī) → makan
- 米饭 (mǐfàn) → nasi
“Mayoritas sudah fasih ya, ‘ch’-nya sudah terdengar fasih,” puji Rizka Laoshi saat peserta melafalkan kosakata baru secara serentak.
Ia kemudian memaparkan catatan tata bahasa penting, yakni kata kerja modal 想 (xiǎng) yang biasanya diletakkan di depan kata kerja utama untuk menyatakan keinginan atau rencana, serta kata tanya 多少 (duōshǎo), dan kata bantu bilangan 个 (ge) dan 口 (kǒu).
Wawasan kultur yang mengasyikan di kelas hari itu adalah pengayaan budaya tentang 茶文化 (chá wénhuà – budaya teh) di Tiongkok. Rizka Laoshi menjelaskan bahwa minum teh sudah menjadi adat turun-temurun selama ribuan tahun. “Minum teh merupakan salah satu bagian dari budaya kuno Tiongkok. Perjalanan teh dari obat hingga menjadi minuman populer dimulai sekitar 2000 tahun lalu pada masa Dinasti Xi Han,” paparnya.
Ia juga menyebutkan bahwa hingga kini, kebiasaan “morning tea” atau 早茶 (zǎochá) masih sangat kuat di wilayah Guangzhou dan Yangzhou, di mana masyarakat berkumpul di rumah teh sejak pagi hari untuk menikmati teh sambil bersosialisasi.
Setelah tiga jam penuh pembelajaran yang intensif, interaktif, dan kaya makna, peserta Mandarin Bootcamp pertemuan ke-11 menutup kelas dengan bekal yang baru: pengucapan pinyin nada kedua yang semakin mantap, kemampuan menyatakan keinginan sehari-hari dengan sederhana, serta wawasan yang lebih dalam terhadap salah satu warisan budaya terpenting Tiongkok —budaya meminum teh.
Para peserta pun semakin termotivasi untuk melanjutkan perjalanan belajar Mandarin mereka di pertemuan berikutnya.**