Menteri Agama RI Hadir Membuka KTT Konfusianisme ASEAN-Tiongkok V Dalam Rangka Peringati Hari Lahir Nabi Kongzi 2577 Kongzili

Foto Bersama KTT Konfusianisme ASEAN-Tiongkok ke-V

(Jakarta) Pusbimdik Khonghucu — Dalam rangka peringati Hari Lahir Nabi Agung Kongzi ke-2577 Kongzili Pusbimdik Khonghucu Kemenag RI kerjasama dengan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Konfusianisme ASEAN-Tiongkok ke-5 di Jakarta tanggal 6 -10 Oktober 2026.

Mengusung tema “Budaya Konfusianisme & Kehidupan Modern”, forum tersebut menjadi ruang dialog bagi akademisi, tokoh agama, cendekiawan, budayawan, dan pemerhati Konfusianisme dari Indonesia, Tiongkok, Hong Kong, serta negara-negara ASEAN.

Diskusi diarahkan untuk melihat kembali relevansi pemikiran Kongzi dalam menghadapi perkembangan teknologi, perubahan sosial, tantangan lingkungan, serta berbagai persoalan kemanusiaan yang muncul dalam kehidupan masyarakat modern.

Menteri Agama RI, Nasarudin Umar membuka forum KTT Konfusianisme ASEAN-Tiongkok V. dalam sambutannya, ia menyampaikan adanya ketimpangan pemikiran dalam memahami agama dan kehidupan modern saat ini. “Kalau bicara agama, kita seperti menoleh ke masa lampau. Tetapi kalau bicara kehidupan modern, kita seperti akan hidup seribu tahun yang akan datang. Di sinilah perlunya forum seperti ini,” ujar Nasaruddin.

Ia juga memberi perhatian khusus terhadap persoalan lingkungan. Menurutnya, agama memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis yang bersinergi dengan nilai-nilai kemanusiaan. “Jika kesadaran keagamaan untuk memelihara lingkungan tidak muncul dalam hati setiap orang, maka dunia akan menghadapi persoalan yang semakin berat. Di sinilah perlunya bahasa agama untuk mengajak manusia bersahabat dengan alam,” jelasnya.

Nilai tersebut, salah satunya ditanam dalam tradisi Konfusianisme yang menempatkan manusia, alam, dan Tuhan dalam suatu kesatuan yang saling berkaitan. “Tradisi luhur Khonghucu sangat menekankan hubungan segitiga antara manusia, alam, dan Tuhan. Jika relasi antara manusia, alam, dan Tuhan tidak harmonis, maka problem kemanusiaan akan bermunculan,” ujarnya.

Menag juga mengajak seluruh tokoh agama untuk membangun kesadaran bahwa menjaga alam bukan semata-mata dilakukan demi kepentingan manusia. Kepedulian terhadap lingkungan, menurutnya, perlu ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlangsungan kehidupan.

“Kita harus mencintai alam semesta seperti mencintai diri sendiri. Jangan hanya berpikir secara antroposentris, hanya mementingkan keuntungan manusia tetapi mengabaikan kelestarian lingkungan,” tutupnya.

Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu (Pusbimdik Khonghucu), Nurudin, turut hadir dan memberikan dukungan. Hal ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus mendorong pengembangan nilai-nilai keagamaan yang tidak hanya diwariskan sebagai pemikiran, tetapi juga dapat dikontekstualisasikan dalam menjawab tantangan kehidupan.  

Peringatan Hari Lahir Nabi Agung Kongzi ke-2577 Kongzili yang dipadukan dengan KTT Konfusianisme ASEAN-Tiongkok V, dihadiri Xs. Budi S. Tanuwibowo - Ketua Umum Dewan Rohaniwan Matakin sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Bidang Agama Khonghucu, dan diikuti sekira seratus peserta dari berbagai negara di ASEAN, Tiongkok, dan Hongkong. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, mulai dari Konfusianisme, filsafat, studi agama, pendidikan, hubungan internasional, hingga bidang lainnya.**


Berita LAINNYA