Salam Kebajikan. Sebentar lagi kita akan memperingati Hari Kemerdekaan Republik
Indonesia. Ketika mendengar kata kemerdekaan, apa yang terlintas dalam pikiran kita?
Mungkin kita membayangkan Sang Saka Merah Putih berkibar. Kita teringat Proklamasi 17
Agustus 1945. Kita mengenang para pahlawan yang berjuang dengan darah, air mata, tenaga, harta, bahkan nyawa. Siapa pahlawan kita yang terdekat? Tak lain adalah orangtua, guru di sekolah, guru rohani kita mereka berjuang untuk kehidupan, kebaikan dan masa depan kita. Tetapi pada kesempatan ini, marilah kita bertanya lebih dalam:
Apa arti kemerdekaan bagi kita sebagai umat Khonghucu?
Apakah merdeka hanya berarti bebas dari penjajahan?
Ataukah kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan
benar, membina diri, berbuat kebajikan, dan memberikan manfaat bagi sesama?
Hari ini kita akan merenungkan satu tema: “Merdeka untuk Berbuat Kebajikan.”
Karena kemerdekaan yang sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi bebas untuk
memilih jalan kebajikan.
1. KEMERDEKAAN ADALAH HASIL PERJUANGAN
Bangsa Indonesia tidak mendapatkan kemerdekaan dengan cuma-cuma. Para pendahulu kita
berjuang dalam keadaan yang sangat sulit. Mereka mungkin tidak menikmati Indonesia
seperti yang kita nikmati sekarang. Mereka mungkin tidak sempat menikmati kemajuan
teknologi.Tidak sempat menikmati kehidupan yang nyaman. Bahkan banyak yang tidak
sempat melihat masa depan bangsa yang mereka perjuangkan. Namun mereka tetap berjuang.
Mengapa? Karena mereka memiliki keyakinan bahwa kehidupan yang lebih baik harus
diperjuangkan. Inilah sesuatu yang sangat indah untuk kita renungkan.
Orang yang hidup dalam kebajikan tidak hanya berpikir tentang dirinya sendiri.
Ia memikirkan orang lain. Ia memikirkan generasi berikutnya.
Ia memikirkan apa yang dapat diwariskan kepada sesama. Karena itu, ketika kita
memperingati kemerdekaan, jangan hanya bertanya: “Apa yang sudah diberikan Indonesia
kepada saya?” Tetapi mari kita balik pertanyaannya:“Apa yang sudah saya berikan
kepada Indonesia?”
Apa yang sudah kita lakukan untuk keluarga?
Apa yang sudah kita lakukan untuk lingkungan?
Apa yang sudah kita lakukan untuk masyarakat?
Apa yang sudah kita lakukan agar Indonesia menjadi tempat yang lebih baik?
2. MERDEKA BUKAN BERARTI BEBAS BERBUAT SEMAU KITA
Sering kali kita memahami kemerdekaan sebagai kebebasan.
Tetapi kebebasan tanpa kebajikan dapat menjadi masalah.
Kalau saya berkata, “Saya bebas mengatakan apa saja,” lalu saya menggunakan kebebasan itu
untuk menghina orang lain, apakah itu kebajikan?
Kalau saya berkata, “Saya bebas mencari keuntungan,” lalu saya menipu orang lain, apakah
itu kebajikan? Kalau saya berkata, “Saya bebas melakukan apa yang saya mau,” lalu
perbuatan saya merugikan keluarga dan masyarakat, apakah itu kemerdekaan yang sejati?
Tentu tidak.
Kemerdekaan harus disertai tanggung jawab.
Kita merdeka bukan untuk hidup tanpa aturan. Kita merdeka agar dapat menggunakan
kebebasan dengan benar.
Di sinilah ajaran Nabi Kongzi sangat relevan.
Dalam Lunyu terdapat sebuah ajaran:
“己所不欲,勿施於人。”
Jǐ suǒ bù yù, wù shī yú rén.
Artinya:
“Apa yang tidak kita inginkan dilakukan terhadap diri kita, janganlah kita lakukan
kepada orang lain.”
Ayat ini sederhana, tetapi sangat dalam. Kita tidak ingin dihina, maka jangan menghina.
Kita tidak ingin ditipu, maka jangan menipu. Kita tidak ingin diperlakukan tidak adil, maka
jangan berlaku tidak adil. Kita ingin dihormati, maka belajarlah menghormati.
Bayangkan apabila prinsip sederhana ini benar-benar diterapkan oleh setiap warga negara.
Betapa damainya Indonesia.
3. KEMERDEKAAN DIMULAI DARI PEMBINAAN DIRI
Ada sebuah ajaran penting dalam Da Xue — Kitab Ajaran Besar, yang berbicara tentang
hubungan antara pembinaan diri dengan kehidupan masyarakat.
Intinya adalah:
“修身、齊家、治國、平天下。”
Xiū shēn, qí jiā, zhì guó, píng tiān xià.
Secara sederhana dapat kita pahami sebagai:
Membina diri, membina keluarga, mengatur negara, dan membawa kedamaian bagi
dunia. Gagasan ini mengajarkan bahwa perubahan besar tidak dimulai dari luar diri kita.
Perubahan dimulai dari pembinaan diri.
Kalau ingin keluarga baik, kita harus mulai memperbaiki diri. Kalau ingin masyarakat baik,
kita harus mulai memperbaiki keluarga dan diri sendiri. Kalau ingin negara baik,
masyarakatnya harus terdiri dari manusia-manusia yang baik.
Dengan demikian, membangun Indonesia tidak selalu harus dimulai dengan melakukan
sesuatu yang besar. Membangun Indonesia dapat dimulai dari membangun diri sendiri.
Kalau kita menjadi orang yang jujur, kita sedang membangun Indonesia.
Kalau kita bekerja dengan sungguh-sungguh, kita sedang membangun Indonesia.
Kalau kita menghormati orang tua, kita sedang membangun Indonesia.
Kalau kita mendidik anak dengan baik, kita sedang membangun Indonesia.
Kalau kita menghormati tetangga yang berbeda agama, suku, dan budaya, kita sedang
membangun Indonesia. Kalau kita tidak menyebarkan fitnah dan kebencian, kita juga sedang
membangun Indonesia. Jadi jangan pernah merasa bahwa kebaikan kita terlalu kecil.
Kebajikan yang dilakukan terus-menerus akan menjadi kekuatan yang besar.
4. SUDAHKAH KITA MERDEKA DARI DIRI SENDIRI?
Ada satu pertanyaan yang mungkin agak tidak nyaman untuk kita renungkan.
Bangsa Indonesia sudah merdeka.
Tetapi... Apakah diri kita sudah merdeka?
Kita mungkin merdeka dari penjajahan bangsa lain. Tetapi apakah kita sudah merdeka dari
keserakahan?
Apakah kita sudah merdeka dari iri hati?
Apakah kita sudah merdeka dari kemarahan?
Apakah kita sudah merdeka dari kebiasaan menyalahkan orang lain?
Apakah kita sudah merdeka dari keinginan untuk selalu menang sendiri?
Apakah kita sudah merdeka dari ketidakjujuran?
Pertanyaan ini penting.
Karena kadang-kadang manusia dapat menjadi tawanan dari dirinya sendiri.
Kita menjadi tawanan emosi. Tawanan ambisi. Tawanan gengsi.Tawanan keinginan.
Padahal kemerdekaan yang sejati adalah ketika kita mampu mengendalikan diri dan
memilih apa yang benar, sekalipun tidak mudah.
Itulah sebabnya pembinaan diri sangat penting dalam kehidupan seorang umat Khonghucu.
5. KEBERANIAN MENJADI TELADAN
Nabi Kongzi mengajarkan bahwa kehidupan kita seharusnya memberikan pengaruh yang
baik kepada lingkungan.
Kita sering berharap orang lain berubah. Kita ingin anak berubah. Kita ingin pasangan
berubah. Kita ingin tetangga berubah. Kita ingin masyarakat berubah. Kita ingin pemerintah
berubah.Tetapi mari bertanya: Apakah saya sendiri sudah berubah menjadi lebih baik?
Kita ingin anak jujur. Apakah kita sudah memberikan contoh kejujuran?
Kita ingin anak sopan. Apakah perkataan kita sudah santun?
Kita ingin masyarakat rukun. Apakah kita sendiri mampu menghargai orang yang berbeda?
Kita ingin Indonesia damai. Apakah kehadiran kita membawa kedamaian?
Jangan sampai kita menuntut kebajikan dari orang lain, tetapi lupa membina kebajikan dalam
diri sendiri. Karena sering kali teladan lebih kuat daripada nasihat.
Anak-anak kita mungkin lupa apa yang pernah kita katakan. Tetapi mereka akan mengingat
bagaimana kita menjalani kehidupan. Masyarakat mungkin tidak mengingat pidato kita.
Tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.
Maka pada momentum kemerdekaan ini, marilah kita bertanya:
“Teladan seperti apa yang akan saya wariskan?”
Saat ini saya ingin mendengar niat suci apa yang ingin saudara-saudara lakukan ??
Shanzai,,, Shanzai demikianlah yang sebaik-baiknya terjadi...
Lalu apa yang akan terjadi? Indonesia akan berubah. Bukan karena satu orang hebat.
Tetapi karena jutaan orang memilih untuk berbuat baik. Inilah kekuatan kebajikan.
6. KITA BERBEDA, TETAPI KITA SATU INDONESIA
Indonesia adalah bangsa yang luar biasa. Kita berbeda suku, bahasa. Budaya, agama. adat
istiadat. Namun kita hidup dalam satu rumah besar:
Indonesia.
Sebagai umat Khonghucu, kita memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga keharmonisan
tersebut.
Pada hari kemerdekaan ini, mungkin kita tidak bisa mengubah seluruh Indonesia tetapi kita
bisa mulai dari merubah diri sendiri.
四海之內,皆兄弟也。Sì hǎi zhī nèi, jiē xiōng dì yě.
Artinya: "Di empat penjuru lautan, semua manusia adalah saudara."
Di usia Indonesia yang ke-81 ini, mari kita buang jauh-jauh sekat-sekat perbedaan yang
diskriminatif. Mari kita tunjukkan bahwa umat Khonghucu adalah warga negara yang 100%
Khonghucu dan 100% Indonesia. Semangat hidup kita harus disalurkan untuk kegiatan-
kegiatan yang konstruktif. Bantulah tetangga kita yang kekurangan tanpa melihat apa
agamanya. Jagalah kelestarian lingkungan hidup di sekitar kita. Hormatilah hukum dan
peraturan negara yang berlaku.
Ketika kita menjadi warga negara yang tertib, jujur, dan berprestasi, kita sedang
mempraktikkan kebajikan luhur dan mengagungkan nama orang tua serta agama kita.
Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling membenci. Kembar saja beda kok
Justru perbedaan adalah kesempatan bagi kita untuk belajar. Belajar menghormati. Hidup
hidup berdampingan.
Belajar memahami. Kata Maklum,, sabar,, ngalah,,, tapi jangan terus-terusan yah!
Tunggu saatnya lagi santai lagi ngeteh sampaikan pemahaman kita,, kalau sudah ooo
begitu ya,, nah kita saling memaafkan ya,,, .. Ingat cerita kepala ikan dan ekor ikan dengan
sepasang suami istri kan? Bahwa komunikasi penting.
Jadilah warga yang ikut merawat Indonesia.
Merawatnya dengan kejujuran. Merawatnya dengan toleransi. Merawatnya dengan kerja
keras. Merawatnya dengan kepedulian. Merawatnya dengan kebajikan.
7. APA YANG AKAN KITA WARISKAN?
Sekarang mari kita melakukan satu perenungan.
Bayangkan kita berdiri di hadapan generasi yang akan datang.
Anak-anak kita. Cucu-cucu kita. Generasi yang mungkin belum kita kenal.
Mereka akan hidup di Indonesia yang berbeda.
Teknologi mungkin jauh lebih maju. Kehidupan mungkin jauh lebih modern.
Tetapi mereka tetap membutuhkan satu hal: manusia yang berbudi dan berkarakter.
Maka pertanyaannya: Apa yang akan kita wariskan kepada mereka?
Apakah hanya harta? Apakah rumah? Apakah usaha? Apakah hanya jabatan?
Ataukah kita juga mewariskan:
kejujuran,
kesantunan,
bakti kepada orang tua,
kepedulian kepada sesama,
semangat persatuan,
dan kecintaan kepada tanah air?
Warisan terbesar manusia bukan selalu apa yang ia tinggalkan dalam bentuk benda.
Sering kali warisan terbesar adalah teladan kehidupan.
8. MERDEKA UNTUK BERBUAT KEBAJIKAN
Bagaimana kita mengisi kemerdekaan?
Mari kita isi dengan kebajikan.
Ketika kita bekerja, bekerja dengan sungguh-sungguh. Ketika kita berusaha, berusaha dengan
jujur. Ketika kita memimpin, memimpin dengan bijaksana. Ketika kita mendidik anak,
mendidik dengan keteladanan. Ketika kita berbeda pendapat, tetap menjaga kesantunan.
Ketika kita melihat orang kesusahan, jangan menutup mata. Ketika kita memiliki kesempatan
membantu, bantulah. Bila kita melakukan kesalahan, beranilah mengakuinya dan
memperbaiki diri. Itulah kemerdekaan yang memiliki makna.
Siapa yang merasa,,, ya udah
diam-diam,, tapi nanti dirubah ya,,,, ingat MERDEKA..
PENUTUP
Umat Khonghucu yang saya kasihi,
Ketika nanti kita melihat Merah Putih berkibar, marilah kita mengingat pengorbanan para
pendahulu bangsa. Orangtua, guru.. rohaniwan yang sudah berpulang..doakan mereka,, dan
tetaplah berbuat Kebajikan. Rukun,, semangat,, baik.. bersih.. dan seterusnya.
Mereka menjaga diri dan menjaga Indonesia Tetao MERDEKA untuk kita. Sekarang adalah
giliran kita untuk memberikan sesuatu kepada generasi berikutnya. Bukan dengan
mengangkat senjata. Tetapi dengan mengangkat martabat manusia melalui kebajikan.
Dengan melawan kebencian, ketidakjujuran, keserakahan, kemalasan, dan egoisme yang ada
dalam diri kita.
Mari kita mulai dari diri sendiri.
Bina diri kita.
Bina keluarga kita.
Bangun masyarakat kita.
Jaga persatuan bangsa kita.
Dan jadikan kebajikan sebagai jalan hidup.
Marilah kita kembali mengingat ayat:
“己所不欲,勿施於人。”
Jǐ suǒ bù yù, wù shī yú rén.
Apa yang tidak kita inginkan dilakukan terhadap diri kita, jangan kita lakukan kepada orang lain.
Dan marilah kita mengingat semangat:
修身、齊家、治國、平天下。
Xiū shēn, qí jiā, zhì guó, píng tiān xià.
Membina diri, membina keluarga, membangun kehidupan masyarakat dan negara, serta membawa kedamaian bagi dunia.
四海之內,皆兄弟也。Sì hǎi zhī nèi, jiē xiōng dì yě.Artinya: "Di empat penjuru lautan, semua manusia adalah saudara."
Semoga kita tidak hanya menjadi manusia yang menikmati kemerdekaan, tetapi juga
manusia yang mengisi kemerdekaan dengan kebajikan.
Semoga kita menjadi umat Khonghucu yang mampu memberikan teladan bagi keluarga,
masyarakat, dan bangsa.
Semoga Indonesia semakin damai.
Semoga Indonesia semakin rukun.
Semoga Indonesia semakin maju.
Dan semoga dari diri kita masing-masing lahir kebajikan yang membawa manfaat bagi
sesama.
Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka untuk berbuat kebajikan.
Merdeka untuk menjadi manusia yang berbudi luhur. Merdeka untuk membangun
Indonesia dengan ketulusan.
Salam Kebajikan.
Shanzai.